Self Improvement

Ternyata, Aku Menolaknya!

Semangat pagi, teman-teman!

Semoga sehat selalu dan langkahnya penuh berkah. Amin. Ngomong-ngomong Lae mau mengakhiri Maret tahun ini dengan menulis tulisan yang cukup ‘intim’ dan ‘personal’. Jarang banget kaaaaan Lae bahas tentang diri sendiri. Kebetulan tulisan ini juga dibuat dalam rangka kolaborasi bersama Bandung Hijab Blogger. Sejauh ini mengikuti kolaborasi, tema bulan ini yang cukup bikin Lae deg-deg-an.

Why?

Jujur, Lae dibuat flashback dengan masa dimana membuat keputusan untuk MENOLAK beberapa tawaran besar di masa lalu. Sekilas terdengar sombong, tapi mungkin adakalanya Lae bangga dengan hal itu. Karena datangnya atas nama prestasi, bukan nepotisme apalagi sensasi. Terlebih kebanyakan tawaran-tarawan tersebut hadir saat Lae sedang mempersiapkan pernikahan. Mungkin benar apa kata orang-orang, bahwa selalu ada godaan menjelang hari pernikahan.

Life after Graduation

September 2015 Lae wisuda S1 dengan yudisium cumlaude. Senangnya bisa melihat orangtua tersenyum karena anaknya bisa wisuda tepat waktu, padahal selama kuliah Lae disibukkan dengan kegiatan organisasi intra dan ekstra kampus. Kalau ditanya setelah wisuda mau ngapain, jawabannya mau S2 atau kerja sambil kuliah S2. File-file pendaftaran S2, latihan TPA/TOEFL memenuhi notebook yang sudah usang. Setiap malam pun berlatih dan berdo’a agar dibukakan pintu rezeki untuk melanjutkan S2. Mengapa bersikukuh ingin melanjutkan S2 dengan beasiswa? Jawabannya, karena Lae masih punya adik-adik yang bersekolah serta kebutuhan hidup keluarga seringkali tidak terduga. Sehingga saat itu Lae pikir harus mencari jalur beasiswa. Ya, beasiswa prestasi!

Diluar perkiraan, bulan November 2015 Lae diterima bekerja sebagai Social Media Admin/Admin Content di salahsatu brand fashion muslim di Bandung. Mungkin terlalu cepat, terlebih tidak bisa menikmati masa-masa nganggur happy (refreshing pasca wisuda) seperti teman-teman lainnya. Tapi, bagaimana bisa begitu kalau pemasukan dana belum punya, minta ke orang tua juga malu. Dipikir-pikir justru kesempatan ini harus disyukuri. Apalagi pekerjaannya sesuai dengan jurusan, hobi dan ditempat yang memang sudah lama diinginkan.

Whatsapp Misterius

Kalau tidak salah semuanya berawal dari bulan Maret 2016, saat itu ada pesan masuk di Whatsapp. berisi informasi beasiswa S2 dari seseorang yang tidak kukenali nomornya. Lae abaikan saja pesannya, lagipula bisa saja HOAX bahkan profile foto si pengirimnya pun tidak jelas.

Semakin hari informasi beasiswa lewat Whatsapp bermunculan dari nomor yang sama. Karena penasaran, kutanya ini siapa dan ternyata ia adalah salahsatu dosen di tempat kuliah dulu. Ia cukup mengetahui kehidupan Lae selama kuliah, dan ia juga salahsatu orang yang disegani. Pertanyaannya, dari siapa dia dapat kontak Lae?

Kemudian ia bertanya seputar aktivitas terkini Lae. Setelah Lae cerita bahwa Lae sudah bekerja, dia tiba-tiba memotong pembicaraan. Intinya kenapa harus bekerja dulu, sayang IPK, bukannya dulu dosen-dosen menyarankan Lae langsung kuliah mumpung usia masih muda. Ia pun menyarankan Lae untuk segera mempersiapkan persyaratan untuk S2 jalur beasiswa di luar negeri dan dia memberikan jaminan pemantapan Bahasa Inggris selama enam bulan di Pare. Ooooow……perkataannya benar-benar ‘menyilaukan’ pandangan dan hati.

Ia pun memberikan Lae waktu untuk berpikir matang sambil menyiapkan persyaratan administrasi S2 selama seminggu. Lae bingung harus bagaimana, kondisinya Lae sedang mempersiapkan pernikahan tapi disisi lain Lae mau kuliah lagi. Please, itu mimpi Lae dari dulu! Lae pun segera menelepon orang tua, mereka pun bingung dan menyerahkan keputusan di tangan Lae. Malam harinya hanya bisa menangis di kostan, apakah ini yang termasuk godaan menjelang pernikahan?

Kalau diterima, berarti bisa diundur sampai dua tahun nikahnya.

Kalau ditolak, gak sayang sama mimpi? gak sayang sama kepercayaan yang mau kasih beasiswa? Ah, dilema!

Keputusanku, adalah….

Beberapa hari setelah itu Lae lebih banyak diam dan mencoba berpikir mendalam tentang semuanya. Tiba-tiba kuingin mengingat perbincangan ringan dengan salah satu dosen tentang apa tujuan S2. Dulu, Lae nilang tujuannya ingin membimbing mahasiswa, ikut serta penelitian-penelitian dan membuat jurnal. Intinya, Lae ingin melaju ke dunia akademik dan menjalani hidup dengan budaya akademik. Dosen pun hanya tersenyum sinis, ia bilang kalau S2 hanya untuk persyaratan administrasi untuk menjadi dosen lebih baik jangan. Selain itu tidak menjamin langsung ada universitas yang menerima setelah lulus, belum lagi ‘permainan politik’ di kalangan birokrat untuk penerimaan dosen.

Lagi-lagi Lae dibuat geram, kenapa masih ada orang yang tidak menerima orang berdasarkan prestasi. Malah memilih berdasarkan hal-hal politis alias nepotisme. Sedangkan Lae, dari awal sekolah hingga kerja benar-benar usaha sendiri. Tapi Lae masih yakin bahwa masih banyak orang baik di sekitar kita. Sebelum memutuskan, sesuai dengan keyakinan, Lae coba menetralkan diri dan sholat istikharah. Memohon pada Yang Kuasa untuk diberikan petunjuk, minimalnya bisa dicondongkan pada pilihan yang baik.

Akhirnya, Lae putuskan untuk MENOLAK tawarannya dengan senang hati tanpa memberikan alasan yang panjang lebar. Respon beliau cukup bijak walaupun terdengar kata-kata kecewa. Dia menyayangkan keputusan Lae, terutama karena usia Lae yang terbilang muda, 22 tahun. Pasca peristiwa itu sampai hari ini benar-benar tidak ada komunikasi. Semoga beliau dan keluarganya sehat selalu. Amin…

Tiga tahun berlalu dan tidak dipungkiri terkadang peristiwa tersebut masih terniang di pikiran. Terlebih jika bertemu teman lama dan saudara yang bilang kalau saja dulu tawaran tersebut diterima, pasti hari ini Lae sudah menjadi dosen. Memang indah membayangkannya, tapi lebih indah realita yang tengah dihadapi. InsyaaAllah meskipun tidak S2 tapi hasrat belajar dan fastabiqul khairat terus mengalir. Ibu rumah tangga juga harus cerdas dan produktif!

Bagi teman-teman yang beruntung bisa mengenyam pendidikan S2 bahkan sudah menjadi dosen, mudah-mudahan ilmu dan pengetahuannya bermanfaat. Lae tunggu terobosan baru yang indah untuk generasi masa depan. Disini, Lae juga sedang melakukan hal yang sama. Ya, di rumah ^_^

Waaaaah…tak terasa tulisannya panjang begini. Ambil hikmahnya dan buang yang buruknya ya, teman-teman. Sampai jumpa di tulisan Lae berikutnya. Semangat!

(0) Comments

  1. Letisia Aristi says:

    Waww.. Itu tawaran dari dosennya bener-bener “menyilaukan”.. Tapi InshaaAllah jalan yang sudah dipilih akan jadi bekal untuk nanti 🙂

  2. Life is about choices dan abis baca cerita Lae hanya bs blg kamu luar biasa 🙂

  3. Anisa Firdausi says:

    Tawarannya menarik banget ya.. dosennya perhatian banget jg. Saluuut. tp semua pasti ada hikmahnya.

  4. tawarannya yang dipengenin banyak orang, tp semoga apa yang di korbankan Allah SWT ganti dengan yang lebih baik aamiin

  5. Teh laeee:”””
    Jdi pingin ketemu..bener juga ya teh harus dilutusin niat s2 teh buat apa:)
    Apapun pilihat kita gak menjadikan kita lebih tinggi atau lbh rendah dr orang lain menurutku, apalagi Allah menilai seseorang bkn dr pangkat apalagi gelar.. tp dri amalannya:)
    Peran apapun yg kita ambil semoga jdi ladang pahala ya teh aamiin:)

  6. greenlady 711 says:

    Huhuhuhuu,memang bener2 beratt yaa pilihannya, tetap semangadd yaa Teh…

  7. Ternyata memang bener ada ya kisah nya, antara galau memilih S2 atau menikah. Hebat teh Lae, bisa tegas menolak tawaran yang sungguh menggiurkan itu, dan memilih menyempurnakan sebagian agama. Semoga selalu Sakinah, Mawaddah wa Rahmah teh 🙂

    1. Iya teh, gak cuma ada di iklan kisahnya teh. Insyaallah keputusan terbaik. Makasih yaa teh… 🙂

  8. selalu semangat mbak, pastinya ada pintu rezeki lain yang dibukakan Allah SWT untuk kita bukan? rasanya pasti nano-nano ya ketika harus mengalahkan rasa egois dari dalam diri kita sendiri. InsyaAllah kini teteh sudah membawa kebahagiaan dalam rumah kecil nya bersama suami dan anak..aamiin 🙂

    1. Amiin…ya Robbal Aalamiin :”)

  9. Megha Rachma says:

    Rencana s2 itu kayaknya hampir pupus mbak. Aku gak tahu nih masih semangat gak yah buat meraih impian itu. Dulu menggebu tapi semenjak ngarir jadi bankir dan ketemu kehidupan hedonis bareng temen (jaman jahiliyah dulu) ngebuat s2 rasanya jauh banget. Tapi aku suka takdir Allah yang mengantarkan aku jd blogger kayak sekrang. Nah begitu pun sama mbak. Semoga keputusan menolaknya jadi keputusan terbaik yah aamiin

    1. Iya teh, Lae juga gak kebayang kalo sampe tenggelam hedon dll. Ini juga Lae baru kembali ngeblog di blog yang sempet mati suri. Insyaallah lebih seru n berkah 🙂

  10. Apalah aku ini yang S2 nya gak lulus. Wkwk. Pada akhirnya aku memprioritaskan yang di rumah. Semoga ini jadi leputusan terbaik.

    1. Insyaallah pasti terbaik teh 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *