Site Loading

Pernah kecewa setelah endorsement seorang influencer di Instagram?

Tadinya berharap penjualan meningkat, followers naik bahkan branding terbangun sesuai rencana. Eh malah tidak ada perubahan sama sekali bahkan sebaliknya. Kalau sudah begini apa yang salah, kita yang terlalu percaya diri atau influencer?

Menurut Lae, sebelum menyalahkan orang lain sebaiknya mengevaluasi diri sendiri terlebih dahulu. Sudah tepatkah metode branding yang kita lakukan, apakah influencer yang kita ajak kerjasama tidak sesuai market produk.

Pentingkah Influencer Marketing? 

Apa yang terbesit di pikiran teman-teman saat mendengar kata ‘influencer marketing’? Sederet nama-nama selebgram, influncer ternama yang mempromosikan produk brand di Intagram? Itu adalah salahsatu contohnya. 

Pada dasarnya setiap perusahaan wajib melakukan branding dan salahsatu praktiknya adalah dengan melakukan influencer marketing. Sehingga produk mereka bisa dikenal baik di masyarakat. Apalagi kini perkembangan dunia sosial media semakin masif, tentu hal ini tidak boleh disia-siakan tim digital marketing perusahaan. Terutama perusaan media besar seperti IDN Creator Network.

Influencer Marketing di IDN Creator Network

Yohana Sitompul, Digital Strategy Manager di IDN Creator Network

Yohana Sitompul selaku Digital Strategy Manager di IDN Creator Network, mengungkapkan hal-hal krusial yang harus diperhatikan oleh brand saat hendak menjalankan influencer marketing. 

1. Tiga hal penting sebelum jalankan influencer marketing 

Ada beberapa hal yang harus diketahui oleh brand sebelum menjalankan influencer marketing, mengingat tak ada tipe campaign yang ‘one type fits all’ untuk tiap jenis bisnis. Menanggapi hal ini, Yohana menuturkan ada tiga hal pentimg yang harus dipersiapkan, diantaranya:

A. Marketing Objective

Kita harus paham apa tujuan dari pengadaan sebuah campaign melalui influencer marketing: apakah untuk awareness, conversion, promo, atau product launch?” 

B. Target Audience

Nah teman-teman, dengan mengetahui target audience brand, akan lebih mudah bagi kita untuk menentukan platform mana yang cocok untuk brand tersebut: Instagram, Twitter, Tiktok, Podcast. Namun, perlu ditekankan bahwa creator marketing platform jangan terus-terusan Instagram-minded. Bahkan kini setiap postingan bisa dihubungkan dengan media sosiala mana pun, misalnya dari Instagram ke Twitter/Tiktok dan lainnya. 

C. Referensi Gaya Konten: Soft Selling atau To The Point? 

Referensi gaya konten yang akan diluncurkan oleh suatu brand juga perlu dipertimbangkan secara matang. “Ketiga, apakah soft-selling, ada alur ceritanya? Ataukah lebih to the point, menunjukkan produk dan menyatakan langsung apa benefit dari produk yang ditawarkan? Sekarang ini, kalau saya bilang, sih, lebih banyak yang pakai strategi soft-selling, meski ada juga yang tetap pakai strategi hard-selling. Strategi soft-selling lebih baik didukung dengan konsep honest review―kita buat seolah audiens tak tahu bahwa mereka sedang terkena exposure branding, begitu,” ungkap Yohana. 

2. Parameter untuk Mengukur Kesuksesan Campaign 

Apa parameter kesuksesan sebuah campaign? Pada umumnya arameter yang digunakan dalam campaign influencer marketing adalah number of reach dari suatu post. Namun tentu juga ada faktor lain yang dapat digunakan untuk menilai keberhasilan suatu campaign.

Yohana mengungkapkan bahwa kuantitas berdasar data adalah parameter utamanya. Apakah memenuhi target yang sebelumnya telah ditetapkan, bagaimana interaksi yang mungkin dihasilkan dari suatu post, brand awareness-nya bagaimana. Nantinya, insight yang kita dapat akan kita kompilasi di sebuah laporan.” 

3. Ide Campaign Versi IDN Creator Network 

Ada 5 ide campaign yang selalu kami gunakan.

A. Hyperlocal KOL (Key Opinion Leader). Hyperlocal KOL adalah para KOL yang berada di kota-kota kecil yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka dinilai memiliki kedekatan yang lebih dengan para audiens mereka sehingga lebih targeted.

B. Always On.

Sebuah brand akan terus menjalankan campaign secara berkelanjutan untuk suatu periode waktu tertentu. Contoh, brand A, dari bulan Januari 2021 hingga Desember 2021 tap in di, misalnya, IDN Creator Network dengan tujuan menjaga eksistensi brand di mata konsumen.

C. Agile campaign.

Maksudnya, kita akan bantu track dan cek platform mana yang sekiranya sedang ramai digunakan. Contoh, Clubhouse. Cara ini digunakan agar brand image terbentuk dengan lebih cepat.”

Ayoooo sudah ada teman-teman yang aktif di Clubhouse? 

D. National KOL

National KOL ini lebih fokus di kota-kota besar yang ada di Indonesia. Pemilihan KOL akan disesuaikan dengan domisili target audiensnya.

E. Vertical Domination.

Ide ini lebih mengarah pada penggunaan KOL dalam jumlah yang sangat masif. Satu konten yang sama akan dibagikan oleh, misalnya, 200 KOL dalam jangka waktu sekian hari. Biasanya, ini dilakukan ketika sebuah brand sedang meluncurkan produk baru atau sedang melaksanakan campaign promo.

 

Seru sekali bukan belajar tentang Influencer Marketing ala IDN Creator Network? Jadi memang bekerjasama dengan Influencer itu ada seni dan ilmumya. Tidak boleh ‘asal’ agar brand image yang diharapkan tercapai. Tentunya tidak melulu berpikiran apa-apa serba harus Instagram/Instagram minded. Kini, semua jenis socmed pun harus dipelajari seiring dunianya yang semakin berkembang. 

 

Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Terima kasih sudah hadir dan membaca tulisan yahg semoga bermanfaat ini. Have a nice day 😊😊😊

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Secondary Navigation