Puisi

Dari Jiwa

Salam hangat dari jiwa yang kelabu, teruntuk kalian inspirator syairku. Ibnu Hazm, Rumi dan Rabiah…

Lihatlah hampanya penghambaan diri pada Sang Maha. Lemah dan tak berdaya. Kusadari itu saat hendak mendekatiNya. Ribuan syair pun tak kan pernah mampu mengetuk pintu-Nya, karena hanya ridho-Nya lah yang bisa menerangi jiwa.

Dunia ini benar-benar fana. Kujalani hidup bagaikan roller coaster. Iman n rindu selalu Dia permainkan dengan ‘apik’. Dia benar-benar membuktikan kebesaran-Nya. Namun disatu sisi aku pun sadar, bahwa dunia ini adalah ladang amal. Beranting ketaqwaan, berdaun kemuliaan dan berbuah manisnya iman.

Bagaimana pandangan kalian tentang dunia setelah pergi, maukah kembali atau sudah nyaman di sana?

Hai, kalian…

Bimbinglah aku menulis syair dengan diksi yang indah, di alam mimpi pun tak apa. Yang penting aku ingin mempersembahkan karya yang indah untuk bulanku, bintangku dan semesta ini. Bimbinglah aku tuk zuhud dan wara yang lillah. Ketahuilah, ini bukan tentang tasawuf atau filsafat, melainkan menjalani hidup yang tidak ‘sekedar hidup’.

Jika kini kalian sedang bercengkrama dengan-Nya, sampaikan terimakasihku, permohonanku dan pertanyaanku yang setiap malam mengusik pikiran dan kuungkapkan di keheningan malam. Semoga lekas terjawab dengan cara-Nya yang kuyakini indah.

Selamat beristirahat di langit-Nya.

Dari jiwa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *