Puisi

Bijak Ber-Socmed Di Tahun Politik

Happy weekend, teman-teman!

Baca judulnya sekilas pasti terkesan super serius. Maklum, gara-gara Lae menyantumkan kata ‘politik’. Di tulisan ini Lae mau mengajak teman-teman bagaimana caranya bijak ber-socmed di tahun politik.

Sebagaimana teman-teman ketahui kondisi perpolitikan Indonesia sedang ‘panas’. Sudah ada dua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang akan memperebutkan RI-1 tahun 2019. Meskipun puncaknya tahun depan, namun ‘panasnya’ sudah mulai dari beberapa bulan silam.

Terus, apakah ada hubungannya dengan social media? Jawabannya berhubungan bangetttt!

Kini social media menjadi salah satu media yang ampuh untuk berkampanye. Bahkan masing-masing pasangan memiliki relawan social media untuk branding. Maka dari itu jangan heran jika di timeline social media kita banyak informasi Capres-Cawapres yang diposting oleh teman kita sendiri. Baik yanh sebelumnya memang interest dengan politik atau mendadak melek politik. Ketahuilah, mereka itu DIBAYAR!

Sayangnya, di balik meriahnya postingan kampenye terdapat informasi HOAX yang menyebar cukup pesat. Kita sebagai warganet tentu harus bijak dalam menyikapinya. Bagaimana caranya? Berikut ini caranya:

1. Saring sebelum Share

Jaman sekarang apa-apa cepat viral gara-gara banyak yang share, betul? Nah, bagi warganet yang bijak tentu jangan ikutan latah asal share. Siapa tahu informasi tersebut hoax. Kalau sudah terlanjur share dan terlihat oleh followers kita, siap-siap saja dibuli. Tentu gak mau, kan?

Maka dari itu sebelum share sesuatu sebaiknya kroscek terlwbih dahulu. Apakah medianya kredibel, bertanya masuk akal, bahkan kita harus banyak membaca informasi agar tidak terkena HOAX. Tapi apabila teman-teman sudah yakin informasi tersebut benar dan bisa dipertanggungjawabkan, mengapa tidak untuk dishare?

2. Ada Lowongan Socmed Admin? Pertimbangkan Baik-Baik yaa!

Jujur, dua bulan yang lalu Lae mendapatkan peluang dan daftar menjadi relawan Social Media. Awalnya Lae kira konten yang dishare sesuai ekspetasi, yaitu tentang pemilu secara umum. Ternyata konten yang dishare adalah untuk branding salah satu capres. Karena tidak sesuai perjanjian awal dan tidak sesuai dengan prinsip bersocmed, jadi Lae pilih mundur. Padahal bayarannya lumayan, tapi buat apa?

Beberapa teman pilih maju dengan alasan yang penting DIBAYAR. Sayangnya setelah Lae perhatikan tidak sesuai dengan prinsip admin Socmed versi Lae. Ketika kontennya dikomentari pedas malah tidak dibalas atau dihapus. Komentar positif juga tidak direspon. Why? Setelah ditanya kepada salahsatunya ternyata baginya yang penting posting dan dapat bayaran. Tentang isi kontennya ia bilang tidak mengerti, yang penting share. Apakah seperti itu seorang relawan Socmed bekerja? Hmmm….

Idealnya, admin social media harus menguasai apa isi kontennya dan siap menghadapi pujian serta kritik. Mengapa Lae bisa bilang itu, karena sebelumnya pernah bekerja sebagai admin Socmed di salah satu brand fashion Muslim Di Bandung selama hampir tiga tahun (boleh yaa rada PD dikit, haha😂🤣). Integritas dan wawasan tentang pekerjaan tentu harus dikedepankan.

Eh….ngomong-ngomong Lae Yang sok idealis atau Lae yang bodo ya? Ah…tapi buat apa share konten yang kita sendiri tidak menguasai materinya. InsyaAllah ada pintu rezeki yang lain. Amin.

Jadi, kalau ada yang menawarkan lowongan yang sama sebaiknya dipertimbangkan dengan matang yaa 😉

Sebenarnya tidak cukup dua poin untuk menjadi warganet yang bijak bersocmed di tahun politik. Intinya mari hadapi tahun politik dengan cerdas dan bahagia dengan menjadi warganet yang bijak.

Sampai jumpa besok yaa 😘

(0) Comments

  1. Bella Zadithya says:

    Sebagai sesama pekerja sosmed, tahu banget rasanya hehe… Memang ya, ada semacam beban moral dengan apa yang kita tulis dan share, walaupun bukan atas nama kita.. Sukses selalu…

    1. Iya, bebannya sesuatu banget.

      Amin, sukses selalu juga yaa 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *